Kebijakan pengadaan terbaru mewajibkan prioritas produk dalam negeri, termasuk ketentuan minimum 25% TKDN pada proyek publik ketika ambang kombinasi TKDN+BMP 40% tidak terpenuhi—sebagaimana dilaporkan media nasional sektor energi di Petromindo. Aturan ini menggeser cara perusahaan menyusun strategi pasok, dari sekadar memenuhi ambang ke penguatan ekosistem pemasok lokal, kendali mutu, dan efisiensi biaya. Di sinilah urgensi menyusun strategi tkdn proyek industri.
Kerangka ilmiah menunjukkan bahwa kebijakan local content dapat berdampak multi-arah: mendorong industrialisasi, namun berpotensi memunculkan inefisiensi bila desain kebijakan dan penerapannya kurang presisi. Analisis inter-disipliner yang menilai konsistensi LCR/TKDN terhadap komitmen perdagangan internasional dan dampaknya pada investasi dapat dibaca pada diskusi kebijakan ERIA di Compliance Analysis of Indonesia’s LCR. Landasan ini membantu pelaku industri merancang strategi lokal yang tetap sejalan dengan performa operasional dan tata kelola rantai pasok.
1. Mengapa TKDN 2025 Perlu Strategi Bukan Sekadar Kepatuhan
Mengalihkan fokus dari “angka” ke “nilai”
TKDN bukan hanya kalkulasi persentase; ia adalah alat untuk memicu value creation: substitusi impor yang rasional, kapasitas manufaktur lokal, dan kemandirian kritikal.
Menghindari jebakan biaya laten
Tanpa strategi, TKDN dapat memicu biaya logistik berlebih, lead time panjang, dan risiko kualitas. Desain pasok modular dan kontrak kinerja meredamnya.
Menyusun portofolio pemasok berlapis
Bangun tier 1–3 dengan kriteria kedewasaan proses, audit kualitas, dan kesiapan digital untuk menjamin kontinuitas pasok.
2. Memetakan Aturan, Menetapkan Target, Menata Ulang Desain
Membaca hierarki prioritas pengadaan
Pahami lapisan prioritas: produk domestik dengan TKDN ≥25% dan kombinasi TKDN+BMP ≥40%, atau fallback ke TKDN ≥25% ketika pasokan terbatas. Ini menentukan strategi bundling komponen.
Menentukan baseline proyek
Petakan baseline TKDN per work package sejak FEED agar opsi desain (make‑or‑buy, modul vs stick‑built) terukur dan terdokumentasi.
Menyelaraskan spesifikasi teknik
Sesuaikan spec dengan katalog lokal tanpa menurunkan integrity—gunakan alternatif material, design equivalence, dan standardisasi spare.
Menyusun kontrak adaptif
Sisipkan klausul MOC, target TKDN bertahap, bonus-malus kualitas, dan SLA logistik untuk menjaga fleksibilitas terhadap dinamika pasar.
3. Desain Rantai Pasok di Tahap EPC: Menang di Hulu
Integrasi TKDN di desain paket EPC
Rancang paket sejak awal agar komponen bernilai tinggi diproduksi lokal, sedangkan komponen kritis impor dibingkai oleh mitigasi mutu.
Orkestrasi vendor engineering
Fasilitasi transfer desain, jig & fixture, serta quality plan untuk mempercepat pembelajaran pemasok baru—tanpa mengganggu jadwal EPC.
Menautkan ke eksekusi EPC
Pada fase engineering dan pengadaan, optimalkan kerja sama dengan integrator EPC pabrik industri agar akuntansi TKDN, kelayakan teknis, dan pengendalian mutu berjalan sinkron.
4. Kontrol Kualitas: Dari Kertas Nilai ke Performa Nyata
Quality gate di setiap modul
Buat gate acceptance FAT/SAT dengan traceability TKDN pada drawing, MTC, dan lot production; kurangi risiko rework.
Digital thread dan e‑certificate
Gunakan sistem e‑certificate untuk verifikasi TKDN, menghubungkan BoM ke invoice dan sertifikat material.
Audit pemasok berbasis risiko
Prioritaskan audit di proses bernilai tinggi: welding, heat‑treatment, coating; pakai sampling plan yang selaras dengan konsekuensi kegagalan.
Pengujian independen
Libatkan lab terakreditasi dan third‑party inspection untuk menjaga objektivitas serta kepercayaan auditor.
5. Standar, Regulasi, dan Tata Kelola yang Sinkron
Pemetaan standar lintas proyek
Selaraskan TKDN dengan ASME, ASTM, API, IEC, ISO, dan persyaratan sektor sehingga tidak terjadi konflik spesifikasi di lapangan.
Harmonisasi dokumentasi
Lengkapi ITP, WPS/PQR, dan CoC dengan informasi TKDN agar pemeriksaan auditor efisien dan konsisten.
Kinerja yang dapat diaudit
Tautkan KPI kualitas dan on‑time delivery ke target TKDN—bukan hanya memenuhi angka, tetapi dapat ditelusuri capaian teknisnya.
Rujukan kebijakan internal
Dokumentasikan pedoman internal yang mengintegrasikan pemenuhan TKDN dengan standar konstruksi industri untuk menjaga disiplin implementasi.
6. Taktik Pengadaan: Negosiasi, Konsorsium, dan Diversifikasi
Negosiasi nilai tambah
Dorong vendor untuk menambah proses lokal (machining, assembly, coating) yang meningkatkan TKDN tanpa mengorbankan kualitas.
Konsorsium strategis
Bangun kemitraan lokal–global untuk komponen berisiko tinggi, menggabungkan transfer teknologi dan pengendalian mutu bersama.
Diversifikasi sumber
Kelola dual‑sourcing pada item kritis untuk meredam risiko supply shock, sambil menjaga total landed cost.
Integrasi dengan eksekusi lapangan
Selaraskan jadwal pengadaan dengan manajemen proyek konstruksi agar kurva S tetap sehat meski ada penyesuaian pemasok.
7. Tanya‑Jawab, How‑To, dan Praktik Cerdas
FAQ singkat (≥5)
Apakah TKDN 25% selalu cukup? Tidak, lihat prioritas kombinasi TKDN+BMP 40% lalu fallback.
Bagaimana menjaga kualitas? Terapkan quality gate, third‑party inspection, dan audit proses.
Apakah semua komponen harus lokal? Fokus pada komponen bernilai tinggi/volumetrik; sisakan impor untuk komponen ultra‑kritis.
Bagaimana jika kapasitas lokal terbatas? Gunakan konsorsium dan pengembangan vendor bertahap.
Dokumen apa yang penting? BoM bernilai TKDN, sertifikat material, e‑certificate, dan bukti proses lokal.
How‑To operasional
Petakan baseline TKDN sejak FEED dan tandai work package bernilai tinggi.
Bangun daftar vendor tiered beserta rencana pengembangan kapasitas.
Siapkan quality plan per komponen: ITP, WPS/PQR, FAT/SAT.
Gunakan e‑certificate terintegrasi ERP untuk verifikasi cepat.
Kunci kontrak dengan KPI kualitas, jadwal, dan penalti rework.
Keterkaitan ke commissioning
Pastikan hasil uji mutu mengalir ke protokol commissioning pabrik agar performa aktual konsisten dengan klaim TKDN.
8. Tabel Perbandingan Strategi Pemenuhan TKDN
Opsi strategi dan trade‑off
| Opsi | Kecepatan Implementasi | Dampak TKDN | Risiko Kualitas | Biaya Total |
|---|---|---|---|---|
| Lokalisasi proses akhir (assembly/coating) | Cepat | Sedang | Rendah–Sedang | Rendah–Sedang |
| Lokalisasi komponen inti (machining/welding) | Menengah | Tinggi | Menengah–Tinggi | Menengah |
| Konsorsium lokal–global | Menengah | Tinggi | Rendah–Menengah | Menengah |
| Full local manufacture | Lambat | Sangat tinggi | Menengah | Tinggi |
Quality controls yang krusial
Tetapkan acceptance criteria berbasis standar teknis, bukan hanya asal produksi lokal.
Pengembangan vendor berkelanjutan
Berikan coaching proses, audit berkala, dan rencana peningkatan kapasitas.
Integrasi mekanikal & piping
Koordinasikan kesiapan material dan QA/QC bersama tim fabrikasi piping agar jadwal instalasi tidak terganggu.
9. Melaju Lebih Jauh Bersama Kualitas yang Konsisten
Kami meyakini bahwa keberhasilan pemenuhan TKDN bukan tentang kompromi, melainkan orkestrasi cerdas antara desain, pengadaan, dan kontrol mutu. PT Sarana Abadi Raya adalah perusahaan konstruksi berpengalaman dan profesional berfokus pada rekayasa teknik, pengadaan, fabrikasi, serta commissioning, terdaftar di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum RI AHU. Di Karawang atau kawasan Jawa Barat mana pun Anda berada, tim kami siap berdiskusi, menyempurnakan pendekatan, dan melakukan perbaikan berkelanjutan agar selalu menjadi yang terbaik. Untuk konsultasi kebutuhan Anda, silakan kunjungi contact us atau gunakan tombol WhatsApp di bagian bawah halaman ini.